5W+ Satu H Aplikasi Hidup dan Pendakian
—
Rabu, 29 November 2017
—
Menemukan Makna Pendakian
5W + 1H + Survival = Psikologi Pendakian.
5W + 1H adalah singkatan dari “what, who, when, where, why,
how,” yang dalam bahasa Indonesia menjadi “apa, siapa, kapan, di mana, mengapa,
bagaimana.”
WHAT ( APA ) : tentunya apa disini sesuai dengan keberadaan
kita di alam bebas. Misal apa sih yg harus kita lakukan, apa aja yg harus kita
perbuat ..Apa aja yg harus kita bawa, hal apa yg harus kita dihindari..
Hal apa
yg harus kita dahulukan/prioritaskan. Apa sih mounteneering, apa sih mountain
sicknes, mountain accident, hill walking, rock climbing, apa sih jungle
survival & survival kid , SOS signal, apa sih punggungan, apa sih peta
countour, apa sih SAR, apa sih navigasi, STOP dll. Apa aja ayoo ? Kalo blum tau
ya cari tau atuh.
WHO ( SIAPA ) : Nah lo..Kita ini siapa ya?? Manusia atau
Dewa ?? kalo sadar kita ini manusia biasa tentu kita akan menyadari kekuatan
alam dan kekuasaan Tuhan.
Jadi pas jadi pendaki kita sadar nih. "oh iya apa aja
yg harus kita perbuat dan lakukan di medan pendakian kita." Bgitu pula
ketika kita kembali kerumah kita akan membawa nilai nilai kearifan alam raya
dalam setiap laku lampah kita.
WHEN ( KAPAN ): Kapan kita harus bergerak, menentukan sikap,
merencanakan pergerakan. Kapan harus berhenti dan lanjut lagi. Kapan harus ngebase dan muncak lalu kembali
ke kaki gunung..
Tentunya dengan kesadaran kapan ini kita akan menemukan
kebijaksanaan berbuat dan bertindak dalam setiap kegiatan kita dilapangan
karena kita benar benar memahami kapan kita lakukan dengan kesadaran Apa &
Siapa.
WHERE ( DIMANA ) : Sadarilah keberadaanmu. Ingatlah dimana
kau berada. Dikamar, disekolah, dikampus, dikantor atau di hutan.. Dimana
ayooo..?? Kalo ingat dan sadar kita ada dimana pasti akan sadar juga keberadaan
kita, pasti paham juga apa yg harus kita lakukan.
Kapan harus jadi pelajar atau
lainnya kapan juga harus jadi pendaki gunung.. Nah kalo lagi di hutan ya jangan
kaya di kamar atau dikota.. He he he yg ada mati konyol bro.
WHY ( MENGAPA ): Mengapa kita harus mendaki gunung ??
Mengapa kita harus bersusah payah bahkan kadang bertaruh nyawa..
Mengapa??..Mengapa kita harus melakukan ini.. Mengapa ? because its
there..haduh ktinggian itumah..
Mengapa adalah pertanyaan mendasar untuk diri
kita sendiri agar kita benar benar mempersiapkan 3W sebelumnya dengan cermat,
matang dan bijaksana. Mengapa kita ada disini, mengapa harus membekali diri
kita dengan teknik mounteneering ?
Mengapa kita harus membekali diri dengan logistik dan peralatan yang
safety.. Mengapa hayooo ?? Jawabannya ada di point sebelumnya dan keterangan
selanjutnya.
HOW ( BAGAIMANA ): How you can do that. Bagaimana kita akan
melakukan ini. Bagaimana jika ada situasi semacam ini ( nyasar, keabisan
logistik, badai, hujan, bertemu hewan buas dll ) Bagaimana hayo ??
Bagaimana
menanggulanginya, mengatasinya, mengaplikasikan setiap teori yang kita
pelajari, Intinya kembali ke 5 W. Gak mau nyasar ya harus paham medan, gak mau
laper ya kudu siap logistik, gak mau dingin ya kudu bawa jaket, gak mau ini,
gak mau itu ya harus disiapkan ini itunya.. Gak mau cape!! Yaa jangan naik
gunung.. Gitu aja kok repot.. Bukan begitu sobat.
Nah pengaplikasian antara 5W+1 H + SURVIVAL akan akan
melahirkan karakter baru yg tangguh.. Hakikat gunung sejatinya ada didepan mata
kita setiap harinya. Dengan kemampuan pengaplikasian teknik teknik tersebut
maka selain tangguh dan bijaksana, kita juga akan mampu untuk menjalani hidup
dan pendakian kita dengan selamat. ( Insya Allah..amin )
Gimana enggak.. Kita sadar betul dimana kita dan apa aja yg
harus kita lakukan dengan potensi apa aja yg kita miliki dan dengan siapa kita
melakukannya, kapan kita harus putuskan, dimana kita akan mulai dan mengapa
semua itu harus kita lakukan dalam hidup ini..
Akal pikir, budi pekerti dan hati nuraninya akan membentuk
karakter hidup yang kuat tidak hanya dimedan medan pendakian. Kesadaran hidup
akan membuat seseorang pendaki menyadari eksistensinya dialam ini. Untung
malangnya serta konsistensi dalam mengatasi setiap tekanan juga rasa takut yang
berkecamuk dalam pikirannya.
Kearifannya bersikap akan melahirkan sosok manusia yang
menghargai hidup dan nilai nilai kehidupan dalam kegiatannya. Hakikat tersebut akan tergambar jelas dari
keberadaannya sebagai manusia yang gemar berpetualang dialam bebas hingga berbagai
kekosongan yang ada dalam pandangannya akan segera ia isi dengan ilmu
pengetahuan dan kegiatan yang sesuai dengan kebijaksanaan hidup dan norma-norma
serta adat istiadat yang berlaku dalam lingkup laku lampahnya.
Ia tak pernah merasa hebat, merasa kuat dan merasa lebih
dari manusia lainnya. Ia terlatih untuk tetap hidup, tetap sabar, tetap
menghargai dan tetap cemerlang dalam setiap pendakian dan hidupnya. Tak ada
yang hebat.. Tak ada yg sempurna.."Kenalilah diri kita melalui medan medan
pendakian kita." Wassalamualaikum..Semoga bermanfaat. ( Esha Agni )
