Tsunami In Memories Banda Aceh-Lhok Nga-Lampuuk

Akhirnya roda roda pesawatpun menyentuh bumi, waktu waktu menegangkan telah berlalu dan kami semua selamat menginjakkan kaki di bumi Nanggroe Aceh Darussalam. Terbayang bagaimana pesawat yang kami tumpangi tadi dihajar hujan angin yang disertai gemuruh halilintar di kiri kanan pesawat. Pesawat nampak bergetar dan turun naik mengikuti gelegar angin dan petir yang tiada henti.

Entah pucat atau tidak yang jelas dalam situasi genting tersebut hanya lafadz Allah yang berkumandang didalam hati, sesekali aku genggam erat foto putraku dan melirik kearah jendela pesawat. Suara gaduh dan panik dari beberapa penumpang pesawat membuat situasi benar benar tegang.  Alam benar benar menunjukan keperkasaannya.

Bandara Blang Bintang sore 28 desember 2004 suasana Nampak temaram dengan carut marut orang orang yang berlalu Lalang, udara yang berbau garam bercampur bau amis dan ketegangan yang menggantung membuat langkahku sedikit bergetar. “ ini masih dibandara ucapku didalam hati. 

Hmm bagaimana situasi diareal yang terkena dampak langsung dari dasyatnya Tsunami.” Diluar bandara suasana semakin ramai oleh wajah-wajah duka yang menatapku silih berganti, tatapan mereka hampa dan kosong sebagaimana malam yang semakin dingin dan semakin larut.

Tak selang beberapa lama kendaraan yang akan mengantar kami ke lokasi basecamp tiba, satu persatu kami mengisi bangku-bangku kosong yang tersedia. Roda roda kendaraan mulai bergulir meninggalkan bandara yang terang benderang menuju daerah yang gelap gulita dan menegangkan. Taka ada cahaya lampu,

Tak ada manusia, hanya sesekali kendaraan militer dan relawan melintas membelah malam gelap yang menegangkan. Sesekali mataku menangkap kilatan cahaya kantung-kantung jenazah yang berjajar dipinggir jalan. Warna terang dari kantung tersebut nampak seperti ratusan pelita dari alam ruh yang membuat bulu kuduk bergidik tebal.

Lebih kurang 20 menit kendaraan membelah sunyinya malam Kutaraja akhirnya kami tiba di simpang pasir, disebuah ruko yang dijadikan sebagai tempat menginap kami. Ditempat ini kami bisa sedikit bernafas lega walaupun gelap gulita dan ketegangan tetap menggantung di udara.

Bergegas segera kami turunkan barang-barang bawaan kami dan memasuki ruko tanpa banyak bicara.
Didalam ruko ternyata ada sekitar 3 kk pengungsi, setelah beramah tamah dan berkenalan sebagian diantara kami langsung beristirahat.

Hmmm lolongan anjing yang tak biasa mulai bersahut-sahutan diluar ruko, entah yang lainnya mendengar atau tidak yang jelas sesekali terdengar suara rintihan yang tidak jelas bahkan sesekali meminta tolong. Mata ini sulit sekali terpejam dan malam terasa sangat panjang.

Sekitar pukul 05.00 WIB sebagian diantara kami telah terbangun dari tidur yang tidak nyaman. Di ufuk timur, cahaya keemasan mulai menyinari tanah Nanggroe yang sedang berduka. Simpang pasir yang tadinya sunyi senyap bagai pekuburan kini mulai hidup kembali, kicauan burung dan suara kendaraan mulai terdengar berseliweran silih berganti. Malam telah berganti, pagi ini udara segar bercampur bau amis yang samar samar terbawa angin mulai mengisi hari pertama kami.

Bersambung