Tsunami In Memories Banda Aceh-Lhok Nga-Lampuuk
—
Kamis, 28 September 2017
—
Goresan Pena
Akhirnya roda roda pesawatpun menyentuh bumi, waktu waktu
menegangkan telah berlalu dan kami semua selamat menginjakkan kaki di bumi
Nanggroe Aceh Darussalam. Terbayang bagaimana pesawat yang kami tumpangi tadi
dihajar hujan angin yang disertai gemuruh halilintar di kiri kanan pesawat.
Pesawat nampak bergetar dan turun naik mengikuti gelegar angin dan petir yang
tiada henti.
Entah pucat atau tidak yang jelas dalam situasi genting
tersebut hanya lafadz Allah yang berkumandang didalam hati, sesekali aku
genggam erat foto putraku dan melirik kearah jendela pesawat. Suara gaduh dan
panik dari beberapa penumpang pesawat membuat situasi benar benar tegang. Alam benar benar menunjukan keperkasaannya.
Bandara Blang Bintang sore 28 desember 2004 suasana Nampak
temaram dengan carut marut orang orang yang berlalu Lalang, udara yang berbau
garam bercampur bau amis dan ketegangan yang menggantung membuat langkahku
sedikit bergetar. “ ini masih dibandara ucapku didalam hati.
Hmm bagaimana
situasi diareal yang terkena dampak langsung dari dasyatnya Tsunami.” Diluar
bandara suasana semakin ramai oleh wajah-wajah duka yang menatapku silih
berganti, tatapan mereka hampa dan kosong sebagaimana malam yang semakin dingin
dan semakin larut.
Tak selang beberapa lama kendaraan yang akan mengantar kami
ke lokasi basecamp tiba, satu persatu kami mengisi bangku-bangku kosong yang
tersedia. Roda roda kendaraan mulai bergulir meninggalkan bandara yang terang
benderang menuju daerah yang gelap gulita dan menegangkan. Taka ada cahaya
lampu,
Tak ada manusia, hanya sesekali kendaraan militer dan
relawan melintas membelah malam gelap yang menegangkan. Sesekali mataku
menangkap kilatan cahaya kantung-kantung jenazah yang berjajar dipinggir jalan.
Warna terang dari kantung tersebut nampak seperti ratusan pelita dari alam ruh
yang membuat bulu kuduk bergidik tebal.
Lebih kurang 20 menit kendaraan membelah sunyinya malam
Kutaraja akhirnya kami tiba di simpang pasir, disebuah ruko yang dijadikan
sebagai tempat menginap kami. Ditempat ini kami bisa sedikit bernafas lega
walaupun gelap gulita dan ketegangan tetap menggantung di udara.
Didalam ruko ternyata ada sekitar 3 kk pengungsi, setelah
beramah tamah dan berkenalan sebagian diantara kami langsung beristirahat.
Hmmm lolongan anjing yang tak biasa mulai bersahut-sahutan
diluar ruko, entah yang lainnya mendengar atau tidak yang jelas sesekali
terdengar suara rintihan yang tidak jelas bahkan sesekali meminta tolong. Mata
ini sulit sekali terpejam dan malam terasa sangat panjang.
Sekitar pukul 05.00 WIB sebagian diantara kami telah
terbangun dari tidur yang tidak nyaman. Di ufuk timur, cahaya keemasan mulai
menyinari tanah Nanggroe yang sedang berduka. Simpang pasir yang tadinya sunyi
senyap bagai pekuburan kini mulai hidup kembali, kicauan burung dan suara
kendaraan mulai terdengar berseliweran silih berganti. Malam telah berganti,
pagi ini udara segar bercampur bau amis yang samar samar terbawa angin mulai mengisi
hari pertama kami.
Bersambung
Bersambung
