Menanam Kebijaksanaan Menuai Kedewasaan


Kedewasaan seorang pendaki tidak bisa diukur dari track record pendakiannya, sebab tak sedikit kita jumpai kasus, bertambahnya track record bertambah pula kesombongannya, semakin keras kepala dan bertambah minim kebijaksanaannya.

Pengalaman hanya menjadikan dirinya sebagai sosok yang terjebak dalam hegemoni ke akuan, berfikir sempit dan merasa hebat dari manusia lainnya. Sangat ironis, alam sebagai guru dari medan medan kesadarannya tak mampu menyentuh hatinya dan memerdekaan dirinya dari kegelapan jiwa.


Kesadarannya masih meliputi kesadaran lahiriah baik didalam pendakian maupun didalam keseharian, segala sesuatu harus diukur dari penampilan dan ketangkasan fisik seseorang dalam menjalani irama kehidupan, sementara pengelolaan diri secara bathiniah ( Emotional Quetient ) kurang mendapat perhatian yang baik dari pola pikir dan laku lampahnya.

Padahal jika kita telisik lebih dalam kedua hal tersebut harus saling melengkapi satu sama lainya agar tercipta kesadaran spritual yang seimbang antara haq dan kewajiban serta tugas dan tanggung jawab. Kesadaran lahiriah masih membelengu kesadaran bathiniahnya hingga tak jarang perilakunya sering terjebak didalam jeratan ego yang mendalam.

Penyerapan energi positif dari kerasnya medan-medan petualangan dalam hobi dan kehidupannya masih teramat minim diterimanya. Dirinya masih merasa selalu benar, merasa hebat, dan merasa tak tertandingi dalam segala hal.

Kesadaran spiritual sebagai penyeimbang lahir dan bathin seseorang dalam membangun hubungan vertikal dengan sang Penguasa Alam akhirnya semakin menjauh dan semakin dalam memisahkan hidupnya dari kebenaran yang haq.

Akal pikir dan logika sempit terus menerus menguasai energi kesadaran hidupnya. Hati nurani dan akal sehatnya seakan mati dan tenggelam didalam jurang jurang ke akuan yang semakin gelap dan mengerikan. Energi kemurnian alam yang seharusnya mampu memurnikan dirinya dari semua penyakit perk

otaan tak mampu menjadikan dirinya sebagai seorang insan yang ihksan didalam kehidupan dan pertualangannya.

Sadarlah sebelum terlambat sebab hidup adalah medan petualangan panjang yang tak terhenti sampai datangnya kematian. Jiwa kita akan terus berotasi mengelilingi lingkar kekuasaan Tuhan hingga saatnya damai dalam keabadian