Haqiqat Survival
—
Senin, 19 Juni 2017
—
Menemukan Makna Pendakian
Assalamualaikum.
Akal pikir, budi pekerti dan hati nurani akan membentuk
karakter hidup yang kuat tidak hanya dimedan medan pendakian. Kesadaran hidup
akan membuat seseorang pendaki menyadari eksistensinya dialam ini.
Hakikat pendakian sejatinya ada didepan mata kita setiap
harinya. Kemampuan mengaplikasikan berbagai teknik & pengalaman pendakian
serta kepiawaian untuk memahami berbagai kebijaksanaan alam akan melahirkan
pribadi-pribadi tangguh dan bijaksana.
Bagaimana tidak.Kemampuan untuk menggunakan IQ (Intelligence
Quotients),EQ (Emotional Quotients), SQ (Spiritual Quotients) & ESQ
(Emotional and Spiritual Quotient) benar benar akan selalu kita usahakan pada
posisi yang tepat dan sesuai dengan keadaan nyata yang kita alami dalam
melakoni setiap cerita hidup ini.
Kita sadar betul dimana kita dan apa saja yg harus kita
lakukan dengan potensi apa yg kita miliki, dengan siapa kita melakukannya,
kapan kita harus putuskan, dimana kita akan mulai dan mengapa semua itu harus
kita lakukan dalam hidup ini.
Untung malangnya serta konsistensi dalam mengatasi setiap
tekanan juga rasa takut yang berkecamuk dalam pikirannya.
Kearifannya bersikap akan melahirkan sosok manusia yang
menghargai hidup dari sang Maha Hidup serta nilai nilai kehidupan dalam kegiatannya.
Ingatannya adalah cerminan kesadaran hakiki manusia yang
selalu ingat keberadaan penciptanya, keberadaan dirinya serta tugas dan
tanggung jawab yang diembannya dalam menjalani roda kehidupan ini.
Gerak gerik, laku lampah dan pola pikirnya akan selalu
berusaha mengisi berbagai celah kekosongan dalam hidup ini.
Tidak ada ruang kosong yang ia biarkan menjadi menjadi lahan subur bagi berkembangnya kesombongan dan kebodohan yang akan menjauhkan dirinya dan lingkungannya dari cahaya ilmu pengetahuan dan kegiatan yang sesuai dengan kebijaksanaan hidup dan norma-norma serta adat istiadat yang berlaku dalam lingkup laku lampahnya.
Tidak ada ruang kosong yang ia biarkan menjadi menjadi lahan subur bagi berkembangnya kesombongan dan kebodohan yang akan menjauhkan dirinya dan lingkungannya dari cahaya ilmu pengetahuan dan kegiatan yang sesuai dengan kebijaksanaan hidup dan norma-norma serta adat istiadat yang berlaku dalam lingkup laku lampahnya.
Ia tak pernah merasa hebat, merasa kuat dan merasa lebih
dari manusia lainnya. Ia terlatih untuk tetap hidup, tetap sabar dan tetap
cemerlang dalam setiap pendakian dan hidupnya.
Tak ada yang hebat..Tak ada yg sempurna..Kecuali Tuhan Sang
Pemilik Alam Semesta. "Kenalilah diri kita melalui medan medan pendakian
kita hingga kita mampu mengenali dan menghargai betapa berharganya seluruh
karunia sang Pencipta."
Wassalamualaikum..Selamat menikmati kopi hangat.
