Mendaki Dengan Hati
—
Senin, 19 Juni 2017
—
Menemukan Makna Pendakian
Assalamualaikum warahmattullahi wabarakatuh
Mendaki dengan Hati. Ya Allah, berilah hati kami petunjuk
untuk menapaki jalan-Mu yang lurus, dan teguhkanlah hati kami dengan keimanan,
duhai zat Yang mengurus semesta alam. Allah swt berfirman, “Dan barangsiapa
yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya..”
(At-Taghâbun [64] : 11).
Para pendaki yang selalu menggunakan hati nuraninya akan
mudah untuk mengendalikan setiap rasa yang tumbuh berkembang dalam hidupnya.
Kecerdasan akal pikir yang diimbangi oleh kemurnian hati akan membuat
keseimbangan yang baik dalam laku lampahnya.
Dalam hadits shahih, Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah
sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah, apabila ia baik maka seluruh
tubuh akan baik, dan apabila ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak pula.
Ketahuilah segumpal darah itu adalah hati.”
Karena hati yang baik dan sehat akan membawa kepada pikiran
dan perbuatan baik dalam pendakian dan pergaulan. Dapat kita saksikan rusaknya
hati seorang pendaki akan membawa kerusakan juga dalam pendakiannya, ketidak
patuhan terhadap hati nurani akan melemahkan kinerja tubuhnya untuk
menyeimbangkan kehadirannya dialam raya, tugas dan tanggung jawab yang diemban
dalam pendakian akhirnya terlupakan bersama kesenangan.
Keseimbangan yang harusnya dapat terjaga akhirnya tenggelam
dalam hiruk pikuk kemenangan tanpa makna, tak ada apa apa kecuali petaka bagi
alam yang telah menganugrahkannya sebuah kebanggaan sejati dalam hidupnya.
Sungguh ironis, rusaknya hati adalah awal kehancuran dan
sumber segala musibah serta malapetaka yang akan terjadi dalam pendakian dan
petualangannya.
Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang
menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qâf [50] : 37)
Ayat tersebut sangatlah jelas bagi kita untuk menggunakan
segenap indra dan akal pikir dalam pendakian dan petualangan kita, jangan
sampai kita mengabaikan peringatan dan suara hati yang selalu hadir dalam
setiap langkah hidup kita, para pendaki yang mati hati nuraninya tak akan
pernah menemukan makna pendakian dalam hidupnya, keringatnya, tenaganya
hanyalah kesia siaan yang saling membinasakan satu sama lainnya.
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an ataukah
hati mereka terkunci?” (Muhammad [47] : 24)
Para pendaki yang menggunakan hatinya akan selalu berusaha
untuk mengenali dirinya dan pendakiannya, kecintaannya kepada kegiatannya
adalah cermin dari hidupnya yang penuh perjuangan dan ketabahan.
Kecintaannya kepada pendakian adalah risalah hidup yang
selalu dijadikan acuan untuk menemukan cahaya hati agar mengenali hidup dan
Tuhan mereka. Geburan cahaya illahi didalam hati akan membuat dirinya hanyut didalam
ketenangan, gerakannya tak lagi timpang, alam dan dirinya akan menyatu dalam
sebuah keseimbangan.
Di dalam hatinya kini telah bersemanyam sebuah kesejatian,
tiada lagi kesombongan dan keangkuhan, mereka telah menyadari jika kesombongan
itu menetap dalam hati, niscaya hati itu akan menjadi sakit, bodoh, sengsara,
dan terombang-ambing oleh kesia-siaan.
Perjalanan bathin para pendaki yang telah menemukan hakikat
penciptaan hati mereka ibarat cahaya yang bertafakur dalam keheningan suci.
“Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing
kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu.” (An-Nûr [24] : 35) Allah swt. berfirman dalam hadits qudsi. “Kesombongan
itu adalah jubah-Ku, dan keagungan adalah selendang-Ku. Barangsiapa yang
bersaing dengan-Ku dalam kedua hal itu, niscaya Aku akan mengazabnya.
Nah sobat pendaki bagaimana hati kita saat ini.
Sungguhkah kita telah menggunakan hati kita selama ini. Mari
kita bercermin atas sikap dan tulisan serta lisan kita sendiri..( cermin )
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat menikmati kopi hangat.