Mendaki Dengan Hati

Assalamualaikum warahmattullahi wabarakatuh

Mendaki dengan Hati. Ya Allah, berilah hati kami petunjuk untuk menapaki jalan-Mu yang lurus, dan teguhkanlah hati kami dengan keimanan, duhai zat Yang mengurus semesta alam. Allah swt berfirman, “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya..” (At-Taghâbun [64] : 11).

Para pendaki yang selalu menggunakan hati nuraninya akan mudah untuk mengendalikan setiap rasa yang tumbuh berkembang dalam hidupnya. Kecerdasan akal pikir yang diimbangi oleh kemurnian hati akan membuat keseimbangan yang baik dalam laku lampahnya.


Dalam hadits shahih, Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah, apabila ia baik maka seluruh tubuh akan baik, dan apabila ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak pula. Ketahuilah segumpal darah itu adalah hati.”

Karena hati yang baik dan sehat akan membawa kepada pikiran dan perbuatan baik dalam pendakian dan pergaulan. Dapat kita saksikan rusaknya hati seorang pendaki akan membawa kerusakan juga dalam pendakiannya, ketidak patuhan terhadap hati nurani akan melemahkan kinerja tubuhnya untuk menyeimbangkan kehadirannya dialam raya, tugas dan tanggung jawab yang diemban dalam pendakian akhirnya terlupakan bersama kesenangan.


Keseimbangan yang harusnya dapat terjaga akhirnya tenggelam dalam hiruk pikuk kemenangan tanpa makna, tak ada apa apa kecuali petaka bagi alam yang telah menganugrahkannya sebuah kebanggaan sejati dalam hidupnya.

Sungguh ironis, rusaknya hati adalah awal kehancuran dan sumber segala musibah serta malapetaka yang akan terjadi dalam pendakian dan petualangannya.

Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qâf [50] : 37)

Ayat tersebut sangatlah jelas bagi kita untuk menggunakan segenap indra dan akal pikir dalam pendakian dan petualangan kita, jangan sampai kita mengabaikan peringatan dan suara hati yang selalu hadir dalam setiap langkah hidup kita, para pendaki yang mati hati nuraninya tak akan pernah menemukan makna pendakian dalam hidupnya, keringatnya, tenaganya hanyalah kesia siaan yang saling membinasakan satu sama lainnya.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad [47] : 24)

Para pendaki yang menggunakan hatinya akan selalu berusaha untuk mengenali dirinya dan pendakiannya, kecintaannya kepada kegiatannya adalah cermin dari hidupnya yang penuh perjuangan dan ketabahan.

Kecintaannya kepada pendakian adalah risalah hidup yang selalu dijadikan acuan untuk menemukan cahaya hati agar mengenali hidup dan Tuhan mereka. Geburan cahaya illahi didalam hati akan membuat dirinya hanyut didalam ketenangan, gerakannya tak lagi timpang, alam dan dirinya akan menyatu dalam sebuah keseimbangan.

Di dalam hatinya kini telah bersemanyam sebuah kesejatian, tiada lagi kesombongan dan keangkuhan, mereka telah menyadari jika kesombongan itu menetap dalam hati, niscaya hati itu akan menjadi sakit, bodoh, sengsara, dan terombang-ambing oleh kesia-siaan.

Perjalanan bathin para pendaki yang telah menemukan hakikat penciptaan hati mereka ibarat cahaya yang bertafakur dalam keheningan suci.

“Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nûr [24] : 35) Allah swt. berfirman dalam hadits qudsi. “Kesombongan itu adalah jubah-Ku, dan keagungan adalah selendang-Ku. Barangsiapa yang bersaing dengan-Ku dalam kedua hal itu, niscaya Aku akan mengazabnya.

Nah sobat pendaki bagaimana hati kita saat ini.
Sungguhkah kita telah menggunakan hati kita selama ini. Mari kita bercermin atas sikap dan tulisan serta lisan kita sendiri..( cermin )

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat menikmati kopi hangat.