Tsunami In Memories Banda Aceh-Lhok Nga-Lampuuk
—
Jumat, 11 Januari 2019
—
Goresan Pena
Simpang Pasir tempat istirahat kami nampak biasa biasa saja tidak ada bekas air bah yang datang menghampiri, hanya jalanan berdebu serta panas yang mulai menyengat kepala. Tetapi setelah kami beranjak pergi meninggalkan basecamp menuju Kampung Mulya. Barulah mata kami terbuka lebar. Betapa dasyatnya Tsunami 3 hari yang lalu, sepanjang jalan kami hanya melihat kerusakan yang tiada tara serta mayat-mayat yang bergelimpangan dimana-mana. Sisa air hujan atau mungkin sisa air laut yang datang menerjang masih nampak dibeberapa tempat.
Bau amis yang menusuk hidung serta kapal kapal yang terbawa arus nampak menghiasi jalan berlumpur menuju lokasi pertama operasi kami. Kampung Mulya menurut keterangan penduduk setempat adalah kawasan elit di kota Banda Aceh. Kawasan yang dahulu elok nan megah kini bagaikan sawah dengan mayat-mayat yang bergelimpangan hampir disetiap tempat. Pemandangan mengerikan ini membuat kita sadar bahwa kita ini sungguh kecil dan tiada artinya dihadapan Allah SWT.


Setelah briefing dan pembagian tugas lapangan, kami bergerak sesuai dengan kapasitas kami didalam arahan, kebetulan saat itu aku masuk dalam team pencari dan bungkus mayat. Mayat yang ditemukan oleh team pencari akan dimasukan kedalam kantung jenazah dan diletakan dipinggir jalan sebelum kemudian dibawa atau dinaikan ke atas truck.
Entah berapa puluh atau ratus jenazah yang kita dapatkan pada hari itu. Bau amis bercampur bau busuk yang menyengat adalah tantangan pertama kami, tak sedikit yang tumbang dan harus kembali ke basecamp karena hal tersebut. Bubuk kopi dan balsem adalah makanan diawal awal tugas kami.
Matahari mulai beranjak pergi, bumi Nanggroe mulai diselimuti oleh kegelapan, sementara aku dan beberapa orang rekan masih berada dikawasan pemakaman massal di Lambaro karena truck yang kami tumpangi masih penuh berisikan jenazah baru saja tiba dilokasi.
Hmmm suasana mulai terasa mencekam, Nampak wajah wajah gelisah mulai menghiasi senyum diantara kebulan asap rokok. Ahh untunglah jemputan serta team medis datang menjemput kami, hingga truk tersebut bisa kami tinggalkan dilokasi dan keesokan harinya baru kita turunkan mayat-mayat tersebut.
Setelah mandi dengan cairan pembersih lantai dan antiseptic kami segera berkumpul dan melaporkan kegiatan hari ini. Perut terasa sangat lapar tetapi bau menyengat serta ingatan yang terekam dalam pandangan kami membuat badan ini terasa lemas, lapar tetapi makan tak mau. Didalam periode awal ini banyak diantara kami yang sakit karena cuaca dan keadaan yang sangat ekstrim.
Hari demi hari berlalu, rutinitas kami sebagai relawan tak banyak berubah, lokasi demi lokasi serta mayat demi mayat kami sisir dan kami evakuasi semampu kami, uang emas serta harta benda berharga yang berceceran kami kumpulkan dan kami serahkan kepada pihak-pihak yang berkopentent. Indra penciuman kamipun mengalami kekacauan system yang serius kami tak dapat lagi membedakan antara aroma jenazah dengan makanan atau minuman..Hmm semua nampak sama aromanya. Belum lagi hal hal yang sulit untuk dijelaskan dengan logika kadang mengiringi jejak langkah kami.
Masih cukup jelas didalam benakku dimana kami harus kemalaman didaerah Ulee Lheue dengan ratusan jenazah yang telah kami evakuasi sebelumnya. Saat itu karena katerbatasan jumlah kendaraan terpaksa kami yang telah dianggap senior oleh komandan lapangan harus ditinggalkan dulu untuk dijemput kembali. Hmmm jujur sebenarnya kami keberatan tetapi apa mau dikata dengan sedikit keberanian yang tersisa kami anggukan kepala. Suasana gelap mencekam sulit sekali diceritakan, tak ada cahaya kecuali bara api rokok kami. Suara-suara yang membuat bulu kuduk kami berdiri mulai terdengar, terbayang sesosok jenazah wanita yang tak bisa kami evakuasi di tengah rawa atau tambak.
Bayangan tersebut seakan hadir dan semakin kuat menyatakan kehadirannya. Dengan suara lirihnya dia mnyapa dan bertanya mengapa jenazahnya tidak ikut dievakuasi. Tak karaun rasanya. Ini bukan yang pertama tetapi hal ini biasanya terjadi di areal basecamp sehingga suasana tidak terlalu mencekam karena didalam basecamp terdapat lebih dari 100 orang anggota relawan.
Dengan terbata bata salah seorang diantara kami meminta maaf dan berjanji esok pagi kami akan kembali dan mengurus jenazah wanita tersebut. Hamparan kantung jenazah yang berbaris tak rapi dihadapan kami seakan ikut berbicara tentang kedasyatan ombak Tsunami yang menggulung mereka.
Malam semakin larut, jemputan yang dinanti tak kunjung datang, suasana semakin mencekam, suara anjing yang melolong bersahut-sahutan seakan menjadi rambu kehadiran sesuatu yang tak terlihat disekitar kami, sambil terus menghisap rokok kami mencoba memecah keadaan dengan berdoa dan bershalawat, sesekali terdengar suara lonceng dan suara halus orang yang sedang membaca ayat-ayat suci. Tak lama berselang nampak terdengar suara kereta yang membelah kesunyian malam, lalu cahaya lampu-lampu mulai menyinari wajah kami. Alhamdulillah ternyata itu adalah jemputan kami, mereka agak terhambat karena salah satu diantara mereka mengalami pecah ban dalam perjalanan menuju lokasi kami sehingga harus mencari bengkel untuk memperbaikinya.
Bukan hal mudah mudah mencari bengkel didalam situasi saat itu. Karena itu mereka terpaksa ke pasar Lambaro dan baru kembali lagi menuju Ulee Lheue. Bisa dibayangkan lamanya bukan.
Bercermin dari kejadian yang kami alami dilapangan maka sechedule lapangan dirubah dan mengharuskan seluruh operasi pencarian dan evakuasi jenazah dihentikan setiap jam 4 sore. Alhamdulillah setelah 3 minggu berjibaku dengan lumpur dan jenazah aku dan beberapa orang dipindahkan ke posko 85 didaerah Lhok-Nga dekat Lampuuk untuk membantu rehabilitasi mental anak anak yang tiba tiba menjadi yatim piatu.
Suasana ditempat ini sedikit lebih nyaman bagi kami para pengangkut jenazah karena kami tidak lagi beruurusan dengan lumpur dan jenazah melainkan orang orang dari berbagai pelosok Nusantara dan dunia. Tidak mudah untuk menghapus jejak jejak tsunami didalam benak orang orang yang selamat.
Tsunami In Memorial. Banda Aceh-Lhok Nga-Lampuuk. Nanggroe Aceh Darussalam 28 desember 2004-25 february 2005.