Sebait Kisah Pendakian Gunung Raung.

Tidak salah lagi..Hmmm gunung ini jarang dibahas dan disebutkan, padahal ketika pertama kali saya mendakinya turun naik saya tidak berjumpa manusia kecuali rekan satu team saya.

Gunung ini terletak di ujung timur pulau Jawa , rimbunnya hutan serta jalur yang masih jarang tersentuh manusia membuat suasana gunung ini melebihi dari gunung-gunung yang biasa didaki dipulau Jawa.

Suasana magis bukan hanya dimalam hari tetapi siang malam. Suara bincang bincang wanita bahkan auman harimau terdengar jelas setiap hari. Pohon-pohon besar yang berlumut serta rimbunnya duri-duri yang menghalangi jalan membuat setiap langkah terasa agak bergetar.

Hutan dan dedaunan seakan berbisik tentang ribuan mahluk astral yang sedang memperhatikan langkah langkah kami.  Jika saja kami tidak meyakinkan keberadaan kami didalam hati karena Tuhan Sang pencipta segalanya mungkin kami telah ambil langkah kembali.

Gunung Raung dengan tajamnya medan yang mencengkram lutut serta dingin udara benar-benar telah meninggalkan kesan mendalam dihati kami. Masih teringat kepakan Rangkong berdiameter lebih kurang 1 meter menderu-deru diatas kepala kami.

Derap langkah kaki tanpa wujud serta berbagai suara-suara yang tidak pernah terlihat sepanjang jalan. Bukan mengada mengada atau sekedar cerita kosong belaka.


Hutang dan gunung menjadi saksi perjalanan kami yang terwujud atas kehendak Tuhan diatas tanah gunung yang paling menggetarkan jiwa raga.  Semua yang kami alami disini tidak pernah kami alami di gunung gunung lain dipulau Jawa.

Setelah semua informasi dasar kami dapatkan maka segera kami chek kesiapan alat alat dan logistic kami, pagi mulai beranjak siang dan kamipun segera berpamitan dengan Pak Kadus untuk segera memulai pendakian Gunung Raung, Siang nampak cerah dan langit yang membiru memayungi bukit bukit serta hijaunya hutan.

Tidak terasa setelah melewati jembatan kayu yang cukup besar kami mulai memasuki perkebunan kopi, Gemercik air sungai disisi kiri jalur menambah khidmat suasana sunyi ini. Kira-kira 40 menit berjalan kaki, kami menemukan sebuah pondok kayu dan kebetulan sekali ada pemiliknya sedang beristirahat, tak buang-buang waktu maka kamipun segera mencari informasi tambahan sebelum memulai pendakian.

Saat itu tahun tahun 2004 menurut keterangan pemilik pondok, pondoknya termasuk dalam pos 1 pendakian gunung Raung dan di pos inilah sumber air terakhir dan paling mudah kita dapatkan.

Setelah kantung-kantung air dalam 2 drigen 5 liter serta 8 botol air mineral ukuran 1 liter terisi penuh oleh kami , maka perjalanan kami lanjutkan, berat beban serta kondisi jalur yang mulai naik tajam membuat langkah terasa sangat berat di awal-awal pendakian.

Matahari terus meninggi sebagaimana jalur yang kami hadapi semakin tajam dan semakin sepi, sesekali terdengar raungan gergaji mesin membelah kesunyian hutan dan hati kami.  Rimbunya rimba serta kondisi jalur yang masik rapat oleh pepohonan kecil diselingi suara-suara mahluk-mahluk rimba mengiringi langkah-langkah kami yang pelan namun pasti.

Dengan tali plastik merah dan biru kami tandai setiap titik jalan yang kami lalui, terus terang hati mulai bergetar setelah sekian lama memasuki lebatnya belantara Raung, Sesekali kami menjumpai batang-batang rotan yang berduri menghalangi jalan dan pohon-pohon raksasa yang tumbang hingga menyamarkan jalur yang juga masih tersamarkan oleh rimbunya sampah-sampah dedaunan. Sesekali kami melihat plang nama Pataga yang membuat hati sedikit tentram karena jalur ini menurut info penduduk setempat baru dibuka oleh Pataga Surabaya.

Setelah hampir 7 jam berjibaku dengan ganasnya medan didalam kesunyian rimba belantara Raung perjalanan kami hentikan untuk beristirahat dan mendirikan base dimalam pertama ini. Suasana menggantung sunyi ditambah gerimis yang menemani senja membuat bulu kuduk berdiri tanpa dikomando lagi. Tanpa banyak bicara kami berdua segera membersihkan areal base camp lalu bergegas mendirikan tenda, sambil menunggu gelap datang kami berdua mencari kayu-kayu kering yang akan kami gunakan untuk perapian dimalam harinya.

Rintik hujan tetap dengan iramanya sementara langit semakin gelap dan rimbapun semakin ramai oleh suara-suara penghuni rimba, Api unggun yang sudah menyala sedang didepan tenda kami tinggalkan begitu saja dengan safety area yang telah kami persiapkan sebelumnya. Rencana untuk berhangat-hangat didekat api unggun hanya tinggal rencana,

Mengapa? karena suasana diluar sangat tidak nyaman, cuaca gerimis serta kehadiran beberapa bayangan putih yang disertai bebauan wangi menusuk rongga hidung memaksa kami beregegas memasuki tenda, tarik sleeping bag dan berusaha untuk secepatnya bisa tidur. Malam itu walaupun suasana horror yang menggantung begitu mencekam kami tertidur pulas dengan mimpi yang sama yaitu bermimpi berjumpa dengan seorang wanita cantik berpakaian putih-putih.

Pagi mulai merayap meninggalkan malam walaupun cuaca gerimis tetap awet dari semalam. Sisa api bakaran hanyalah tinggallah debu basah yang meninggalkan kenangan, pagi ini dibawah cuaca mendung gerimis kami persiapkan diri untuk membelah hutan rimba yang sunyi.

Entah sudah berapa bukit kami lalui, kondisi medan yang rapat oleh belukar dan duri memaksa kami untuk mengayunkan golok setiap saat untuk membuka jalan.  Setelah melewati  punggungan yang dipenuhi oleh barisan cemara raksasa kami menemukan jalur pada punggungan sempit. Rasa letih ditambah lapar membuat kami memutuskan untuk istirahat lebih lama dan membuka basecamp.

Matahari sudah semakin redup sinarnya, terdengar beberapa kali auman Harimau yang menggetarkan rimba serta membuyarkan burung burung dan kera liar. Hmmm suara auman yang begitu hebat membuat kami bergegas memasuki tenda dalam posisi memegang kayu sejenis tongkat yang telah kami persanjatai dengan golok kami masing-masing. Malam merambat datang karena keletihan yang luar biasa sehabis menyantap makanan dan segelas kopi serta beberapa batang rokok kamipun tertidur pulas.

Hari ketiga kami masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan puncak, setelah menyimpan dua buah botol cadangan air minum di areal base camp kami lanjutkan perjalanan naik. Jalur semakin terjal dan semakin rapat oleh kesunyian. Hari ketiga kami menemukan kondisi hutan yang lebih basah dan lebih lembab dari dua hari sebelumnya.

Diareal ini kami banyak menemukan jamur dan beberapa tumbuhan keris madu yang beracun, setelah hampir 4 jam membelah hutan rimba dengan berbagai halang rintang kami menemukan dataran yang cukup terbuka dengan sebuah dahan pohon yang mendatar besar, sungguh tempat yang tepat untuk beristirahat. Pohon tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi kami karena keunikannya. Entah pos berapa namanya yang jelas disebelah kiri kami terdapat lembah yang cukup indah dan dihadapan kami terlihat punggungan yang dipenuhi belukar dan tanaman arbei hutan yang berduri tajam.

Setelah menyantap jeruk dan beberapa makanan ringan serta beberapa batang rokok perjalanan kami lanjutkan kembali, benar saja jalur tipis yang sempat terlihat dari dataran tempat kami beristirahat dipenuhi oleh pepohonan arbei yang beduri tajam, hmm disinilah kami banyak mendapatkan kenangan yang sulit dilupakan.

Telapak tangan serta lengan yang memerah serta penuh luka oleh tajamnya duri arbei membuat bibir kadang meringis sambil tetap meneruskan langkah. Dipuncak punggungan kami menemukan jalur agak sedikit menurun dan mendatar disebelah kiri terdapat jurang-jurang yang menganga dalam.

Setelah melewati punggungan tipis yang cukup datar kami langsung dihadapkan kembali oleh jalur tajam yang menghujam dada. Tanda-tanda areal puncak atau batas vegetasi menjelang areal puncak masih belum juga kami dapati, mulai terjadi perdebatan kecil diantara kami karena melihat cadangan air yang kami miliki.

Hari itu matahari sudah semakin jauh di ufuk barat, jalur yang dipenuhi belukar semakin tajam dengan kondisi vegetasi yang semakin rendah. Setelah berjalan naik beberapa saat kami menjumpai sebuah areal basecamp yang cukup baik karena terlindung dibalik cerukan dan pohon besar yang melintang indah. 

Di areal ini semua beban kami letakan dan beristirahat, setelah perdebatan kecil saya memutuskan untuk melakukan orientasi medan sebelum mengambil keputusan, setelah lebih kurang 15 menit mendaki naik sendirian. saya melihat disebelah kiri terdapat ruang terbuka berupa jurang dalam dan tumpukan bebatuan yang menjulang tinggi tanpa vegetasi lagi.

Setelah mempelajari keadaan saya kembali turun dan meyakinkan rekan satu team bahwa puncak sudah tidak jauh lagi. karena hari telah menjelang senja maka kami putuskan untuk menikmati matahari terbenam diareal terbuka diatas batas vegetasi.

Tak disangka ternyata diareal tersebut terdapat sebuah tiang bendera dan prasasti bertuliskan puncak Raung. Hmmm masih diselimuti rasa bingung dan lelah kami habiskan senja diareal tersebut untuk berpose dan mengabadikan kehadiran kami. Esok pagi baru kami akan kembali lagi untuk menentukan langkah selanjutanya. Angin dingin serta suasana sunyi temaram diareal puncak raung menemani langkah-langkah kami.

Sebongkah prasasti berangka tahun 1999 dari tanah Pasundan membuat angin dingin semakin dalam mencucuk tulang.  Setelah berbincang bincang dan membahas langkah untuk keesokan harinya kami segera masuk kedalam tenda. Suara-suara aneh serta hawa mistik yang mencekam menemani buncahan pikiran kami tentang esok hari. Malam itu terasa sangat panjang, tanda tanya dalam suasana mencekam yang sulit dijelaskan dengan kata-kata terus menerus membanyangi pikiran.

Akhirnya pagi tiba. Hari itu hari ke empat, setelah menyiapkan perbekalan dan peralatan dokumentasi kami segera begerak menuju puncak. Suasana pagi yang cerah membuat kami dapat melihat keadaan sekitar puncak Raung serta jalur tipis yang melitas diantara dua jurang yang menganga.

Tanpa peralatan yang memadai dengan pendalaman kondisi jalur yang cukup teliti saya mencoba solo untuk melintasi jalur tipis yang sekarang terkenal dengan nama jembatan Sirotol Mustaqim. Setelah merayap sekitar 15 menit lebih kurang saya menemukan kondisi jalur yang cukup sulit karena rapuhnya bebatuan diareal tersebut.

Setelah berpikir panjang menimbang kondisi jalur yang tidak jelas dan sangat berbahaya, dibawah areal puncak 17 saya putuskan untuk kembali lagi ke puncak Raung. Susah payah saya kembali dan pendakian kami putuskan hanya sampai di puncak Raung dan tidak melanjutkan pendakian ke puncak Sejati Raung karena pertimbangan keselamatan.

Raung 2004