Terjebak Haus Dalam Bayangan Mistik BawaKaraeng

Gunung yang berada di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ini juga sangat melegenda bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Gunung yang memiliki ketinggian lebih kurang 2800 meter di atas permukaan laut ini cukup disakralkan oleh masyarakat adat setempat.

BawaKaraeng memiliki arti Bawa adalah mulut dan Karaeng adalah Raja atau Tuhan dan jika digabungkan maka gunung BawaKaraeng adalah gunung Mulut Raja atau Gunung Mulut Tuhan karena konon dahulu kala gunung ini disebut sebagai tempat pertemuan para Wali dalam menyebarkan agama Islam di Sulawesi Selatan. Jika kita pernah mendengar Haji BawaKaraeng maka istilah tersebut lahir dari seseorang yang telah melakukan ritual haji di Puncak Bawakaraeng.

Mengapa gunung ini termasuk dalam katagori angker.?

Gunung yang disakralkan biasanya terdapat banyak pantangan yang dibumbui dengan berbagai kisah mengerikan jika dilanggar. Menurut Tata atau tetua desa Lembana jika turun kabut pekat di pos tiga dan lima lebih baik pendakian jangan dilanjutkan. Tatanan adat masih kuat dipegang oleh penduduk setempat mengharuskan kita untuk mematuhi setiap petuah dan larangan dari Tata.

Pos 10 Bawakaraeng
Secara pribadi saya mengalami hal yang cukup menegangkan malah bukan di pos tiga atau lima yang terkenal angker dengan hantu Noni dan kabut ghaibnya. Dikedua tempat tersebut justru keadaan baik-baik saja.

Saya mengalami kejadian aneh justru di pos tujuh selepas lembah dekat mata air. Saat seluruh anggota team tertidur mendadak saya terbangun dan merasa sangat haus. "Alhasil saya repa repe cari air minum di botol mineral yang ada didalam tenda tapi sial..Semuanya kosong.." Mau gak mau deh, dengan sangat terpaksa harus keluar tenda menuju sumber air."

Duh kesunyian yang menggantung selepas hujan membuat suasana benar-benar menegangkan, tetapi rasa haus mengalahkan rasa takut yang cukup menggigit bathin saya ketika itu, dengan membulatkan tekad dan mental, perlahan-lahan saya buka pintu tenda dan segera keluar, suasana benar-benar senyap karena hanya team kami yang ada di areal gunung saat itu.

Apa mau dikata tenggorokan sudah tak mampu lagi berdamai dengan kekeringan yang tiba-tiba melanda. Sumber air tidak jauh, hanya beberapa meter saja dari tenda tetapi situasi yang gelap, dingin dan mencekam membuat jaraknya seakan-akan berkilo-kilo meter jauhnya.

Langkah kaki terasa sangat berat, suara-suara aneh yang mendadak muncul membuat semua bulu yang ada ditubuh ini berdiri tegang dan membuat kepala serasa tiga kali lebih besar dari biasanya.

Beberapa bayangan aneh mulai berkelebat disekitar saya, nasi sudah jadi bubur, saya telah berada diluar tenda, masa masuk lagi ke dalam tenda, dengan sisa keberanian yang ada saya bulatkan tekad untuk mengisi air kedalam botol mineral.

Alhamdulillah, walaupun irama jantung seperti alunan musik metal semuanya nampak baik-baik saja, beberapa teguk air segar mengembalikan akal sehat dan keberanian saya, dengan santai saya lanjutkan mengisi botol mineral hingga penuh.

Disaat hendak berdiri dan kembali kedalam tenda, mendadak seperti ada seseorang berdiri tepat dibelakang saya, kepala mendadak menjadi sangat besar dan bulu kuduk menari-nari dalam irama ketegangan, merinding hebat seluruh asa dalam cengkraman dingin dan takut yang tiba-tiba menyerang.

Irama jantung dan nafas yang memburu membuat badan terasa kaku dan kaki menjadi berat. Takut tidak takut atau nekat karena terpojok  terpaksa harus kubalikan wajah melihat kebelakang karena tepat dibelakang saya adalah pintu masuk menuju tenda. "No Where To Run."

"Dag dig dug der.." Badan terasa lemas, wajah mungkin sangat pucat, kaki gemetar dan suara bergetar melihat sosok wanita berparas cantik dengan wajah pucat pasi berdiri tepat dihadapanku. Gaun putih dan rambutnya yang panjang benar-benar tidak membuatnya cantik sama sekali.

Wajahnya dingin tetapi matanya tidak meyorotkan sinar maut seperti film-film hantu yang biasa kita tonton di bioskop. Perawakannya mirip dengan orang-orang bule, sejurus ia menatapku lalu memegang lengan kemudian menembus tubuhku dan menghilang dijalur menuju puncak gunung Bawakaraeng.

Dibilang pingsan enggak tetapi tubuh ambruk tak bertenaga, susah payah kucoba bangkit untuk kembali kedalam tenda, pintu tenda rasanya jauh sekali, mulut terkatup rapat, kaki serasa terpantek masuk kedalam perut bumi. Akhirnya aku hanya berdiam diri seraya mencoba untuk mengatur nafas dan detak jantung agar ketenangan hadir kembali didalam diri.

Setelah beberapa saat terdiam barulah kaki ini mampu untuk melangkah kembali kedalam tenda, malam itu terasa sangat panjang dan melelahkan, sepanjang malam hingga menjelang pagi sampai matahari terbit mata tak mampu lagi untuk terpejam. Hanya lantunan ayat-ayat suci bergema nyaring didalam hati.

( Bawakaraeng Juli 2005 )