Terjebak Haus Dalam Bayangan Mistik BawaKaraeng
—
Sabtu, 26 Agustus 2017
—
Cerita Mistis Pendakian
Gunung yang berada di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ini
juga sangat melegenda bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Gunung yang memiliki
ketinggian lebih kurang 2800 meter di atas permukaan laut ini cukup disakralkan
oleh masyarakat adat setempat.
BawaKaraeng memiliki arti Bawa adalah mulut dan Karaeng
adalah Raja atau Tuhan dan jika digabungkan maka gunung BawaKaraeng adalah
gunung Mulut Raja atau Gunung Mulut Tuhan karena konon dahulu kala gunung ini
disebut sebagai tempat pertemuan para Wali dalam menyebarkan agama Islam di
Sulawesi Selatan. Jika kita pernah mendengar Haji BawaKaraeng maka istilah tersebut
lahir dari seseorang yang telah melakukan ritual haji di Puncak Bawakaraeng.
Mengapa gunung ini termasuk dalam katagori angker.?
Gunung yang disakralkan biasanya terdapat banyak pantangan
yang dibumbui dengan berbagai kisah mengerikan jika dilanggar. Menurut Tata
atau tetua desa Lembana jika turun kabut pekat di pos tiga dan lima lebih baik
pendakian jangan dilanjutkan. Tatanan adat masih kuat dipegang oleh penduduk
setempat mengharuskan kita untuk mematuhi setiap petuah dan larangan dari Tata.
![]() |
| Pos 10 Bawakaraeng |
Saya mengalami kejadian aneh justru di pos tujuh selepas lembah dekat mata air. Saat seluruh anggota team tertidur mendadak saya terbangun dan merasa sangat haus. "Alhasil saya repa repe cari air minum di botol mineral yang ada didalam tenda tapi sial..Semuanya kosong.." Mau gak mau deh, dengan sangat terpaksa harus keluar tenda menuju sumber air."
Duh kesunyian yang menggantung selepas hujan membuat suasana
benar-benar menegangkan, tetapi rasa haus mengalahkan rasa takut yang cukup
menggigit bathin saya ketika itu, dengan membulatkan tekad dan mental,
perlahan-lahan saya buka pintu tenda dan segera keluar, suasana benar-benar
senyap karena hanya team kami yang ada di areal gunung saat itu.
Apa mau dikata tenggorokan sudah tak mampu lagi berdamai
dengan kekeringan yang tiba-tiba melanda. Sumber air tidak jauh, hanya beberapa
meter saja dari tenda tetapi situasi yang gelap, dingin dan mencekam membuat
jaraknya seakan-akan berkilo-kilo meter jauhnya.
Langkah kaki terasa sangat berat, suara-suara aneh yang mendadak muncul membuat semua bulu yang ada ditubuh ini berdiri tegang dan membuat kepala serasa tiga kali lebih besar dari biasanya.
Langkah kaki terasa sangat berat, suara-suara aneh yang mendadak muncul membuat semua bulu yang ada ditubuh ini berdiri tegang dan membuat kepala serasa tiga kali lebih besar dari biasanya.
Beberapa bayangan aneh mulai berkelebat disekitar saya, nasi
sudah jadi bubur, saya telah berada diluar tenda, masa masuk lagi ke dalam
tenda, dengan sisa keberanian yang ada saya bulatkan tekad untuk mengisi air
kedalam botol mineral.
Alhamdulillah, walaupun irama jantung seperti alunan musik metal semuanya nampak baik-baik saja, beberapa teguk air segar mengembalikan akal sehat dan keberanian saya, dengan santai saya lanjutkan mengisi botol mineral hingga penuh.
Alhamdulillah, walaupun irama jantung seperti alunan musik metal semuanya nampak baik-baik saja, beberapa teguk air segar mengembalikan akal sehat dan keberanian saya, dengan santai saya lanjutkan mengisi botol mineral hingga penuh.
Disaat hendak berdiri dan kembali kedalam tenda, mendadak
seperti ada seseorang berdiri tepat dibelakang saya, kepala mendadak menjadi
sangat besar dan bulu kuduk menari-nari dalam irama ketegangan, merinding hebat
seluruh asa dalam cengkraman dingin dan takut yang tiba-tiba menyerang.
Irama jantung dan nafas yang memburu membuat
badan terasa kaku dan kaki menjadi berat. Takut tidak takut atau nekat karena
terpojok terpaksa harus kubalikan wajah
melihat kebelakang karena tepat dibelakang saya adalah pintu masuk menuju
tenda. "No Where To Run."
Irama jantung dan nafas yang memburu membuat
badan terasa kaku dan kaki menjadi berat. Takut tidak takut atau nekat karena
terpojok terpaksa harus kubalikan wajah
melihat kebelakang karena tepat dibelakang saya adalah pintu masuk menuju
tenda. "No Where To Run."
"Dag dig dug der.." Badan terasa lemas, wajah mungkin sangat pucat,
kaki gemetar dan suara bergetar melihat sosok wanita berparas cantik dengan
wajah pucat pasi berdiri tepat dihadapanku. Gaun putih dan rambutnya yang
panjang benar-benar tidak membuatnya cantik sama sekali.
Wajahnya dingin tetapi matanya tidak meyorotkan sinar maut seperti film-film hantu yang biasa kita tonton di bioskop. Perawakannya mirip dengan orang-orang bule, sejurus ia menatapku lalu memegang lengan kemudian menembus tubuhku dan menghilang dijalur menuju puncak gunung Bawakaraeng.
Wajahnya dingin tetapi matanya tidak meyorotkan sinar maut seperti film-film hantu yang biasa kita tonton di bioskop. Perawakannya mirip dengan orang-orang bule, sejurus ia menatapku lalu memegang lengan kemudian menembus tubuhku dan menghilang dijalur menuju puncak gunung Bawakaraeng.
Dibilang pingsan enggak tetapi tubuh ambruk tak bertenaga,
susah payah kucoba bangkit untuk kembali kedalam tenda, pintu tenda rasanya
jauh sekali, mulut terkatup rapat, kaki serasa terpantek masuk kedalam perut
bumi. Akhirnya aku hanya berdiam diri seraya mencoba untuk mengatur nafas dan
detak jantung agar ketenangan hadir kembali didalam diri.
Setelah beberapa saat terdiam barulah kaki ini mampu untuk melangkah kembali kedalam tenda, malam itu terasa sangat panjang dan melelahkan, sepanjang malam hingga menjelang pagi sampai matahari terbit mata tak mampu lagi untuk terpejam. Hanya lantunan ayat-ayat suci bergema nyaring didalam hati.
Setelah beberapa saat terdiam barulah kaki ini mampu untuk melangkah kembali kedalam tenda, malam itu terasa sangat panjang dan melelahkan, sepanjang malam hingga menjelang pagi sampai matahari terbit mata tak mampu lagi untuk terpejam. Hanya lantunan ayat-ayat suci bergema nyaring didalam hati.
( Bawakaraeng Juli 2005 )
