Jejak Langkah Para Pendaki
—
Rabu, 23 Agustus 2017
—
Menemukan Makna Pendakian
Dalam jiwa raga sang pendaki
terdapat naluri berpetualang tak yang kenal henti, keinginan dan rasa untuk
menjelajah setiap tempat yang mengundang andrenalin bagaikan irama detak
jantung yang tak pernah berhenti.
Rasa haus dan penasaran akan suatu medan petualangan bagaikan mengejar bidadari yang menggantung cinta diujung asa, ia nampak didepan mata tersenyum ramah dan memanggil kita tuk bersua dengan keindahannya tetapi sangat jauh apabila kita tidak mampu membeli seperangkat mahar untuk meminangnya.
Rasa haus dan penasaran akan suatu medan petualangan bagaikan mengejar bidadari yang menggantung cinta diujung asa, ia nampak didepan mata tersenyum ramah dan memanggil kita tuk bersua dengan keindahannya tetapi sangat jauh apabila kita tidak mampu membeli seperangkat mahar untuk meminangnya.
Sang pendaki hanya ingin
berpetualang dan menjadi seorang petualang sejati.
Sebab bukanlah perkara mudah bagi sang pendaki untuk mencapai kesejatian, karena medan petualangan sesungguhnya adalah diri sang pendaki itu sendiri, apabila seorang pendaki telah mampu melihat gajah yang berdiri tegak dihadapannya maka melihat semut diujung samudra hanyalah sebuah perkara kecil yang bukan menjadi urusannya, karena sebenarnya masalah terbesar sang pendaki adalah diri sang pendaki dalam medan petualangannya sendiri.
Sebab bukanlah perkara mudah bagi sang pendaki untuk mencapai kesejatian, karena medan petualangan sesungguhnya adalah diri sang pendaki itu sendiri, apabila seorang pendaki telah mampu melihat gajah yang berdiri tegak dihadapannya maka melihat semut diujung samudra hanyalah sebuah perkara kecil yang bukan menjadi urusannya, karena sebenarnya masalah terbesar sang pendaki adalah diri sang pendaki dalam medan petualangannya sendiri.
Apapun medan yang dihadapi
seorang pendaki, di dalam petualangannya tidaklah hanya urusan petualangannya saja
akan tetapi mampukah hati nurani sang pendaki menjadi peka terasah serta
mengerti dan menghargai hidup ini sebagaimana ia menghargai eksistensi dirinya
dalam setiap kegiatan petualangannya.
Jurang dan tebing yang dalam, arus deras, hutan rimba dan lainnya hanyalah sebahagian kecil dari medan sang pendaki dalam petualangannnya.
Jurang dan tebing yang dalam, arus deras, hutan rimba dan lainnya hanyalah sebahagian kecil dari medan sang pendaki dalam petualangannnya.
Sang pendaki kelak akan menjelma
menjadi seorang petualang sejati apabila ia telah memahami dirinya sendiri.
Pendaki yang telah bisa menghargai dan mengerti akan hidup adalah seorang petualang sejati, tanpa menghargai
dan mengerti kehidupan maka jiwa raga sang pendaki hanya akan menjelma menjadi
sebuah sosok petualang kosong tanpa jiwa.
Sungguh di sayangkan sosok petualang jiwa-jiwa
kosong tersebut, pendakiannya hanya haus akan petualangan saja. Petualangannya hanya dirinya saja yang mengerti, sementara dirinya sendiri tidak menyadari dan memahami tujuan utama dari keberadaan petualangannya di alam raya ini.
Ia tidak pernah memahami bahwa untung malang itu bukan hanya dalam pendakian dan petualangannya saja hingga rasa takut kehilangan segala yang ia miliki tidak ada lagi, ia tidak dapat lagi menghargai dan mengerti hakikat kehidupan ini secara keseluruhan, karena ingatannya sebagai manusia hanyalah dirinya sendiri.
Ia tidak mengingat keberadaannya, sehingga kekosongan yang terjadi dalam kehidupan ini bukanlah sesuatu yang berarti. Ia tidak sadar bahwa kekosongan kelak akan melahirkan jiwa-jiwa kosong yang tidak lagi menghargai norma-norma yang berlaku dalam kehidupan manusia, karena kekosongan tidak pernah mendorong seorang pendaki untuk belajar tentang arti kehidupan dalam pendakiannya, melatih serta mengasah hati dan nurani dalam petualangannya.
Ia tidak pernah memahami bahwa untung malang itu bukan hanya dalam pendakian dan petualangannya saja hingga rasa takut kehilangan segala yang ia miliki tidak ada lagi, ia tidak dapat lagi menghargai dan mengerti hakikat kehidupan ini secara keseluruhan, karena ingatannya sebagai manusia hanyalah dirinya sendiri.
Ia tidak mengingat keberadaannya, sehingga kekosongan yang terjadi dalam kehidupan ini bukanlah sesuatu yang berarti. Ia tidak sadar bahwa kekosongan kelak akan melahirkan jiwa-jiwa kosong yang tidak lagi menghargai norma-norma yang berlaku dalam kehidupan manusia, karena kekosongan tidak pernah mendorong seorang pendaki untuk belajar tentang arti kehidupan dalam pendakiannya, melatih serta mengasah hati dan nurani dalam petualangannya.
Pendaki yang berpetualang tanpa dilandasi dengan hati
nurani tulus dalam jiwa raganya tidak akan pernah mendapatkan apa-apa selain
dari pada keringat yang mengucur diseluruh tubuhnya.
Petualangan sang pendaki bukan hanya tanpa tujuan dan bukan pula untuk menaklukan apa-apa semata, melainkan untuk belajar mengenal diri sendiri serta memahami
eksistensi pendakian dalam petualangan yang berguna dalam kehidupan
sehari-hari.
Tidak hanya gunung dan hutan serta buasnya rimba belantara yang kita dapat jadikan pelajaran kehidupan. Yang kita hadapi
sehari-hari adalah medan sesungguhnya dalam kehidupan pendakian seorang
petualang.
Petualangan Sang Pendaki.
Takan henti mendaki sebelum napas
berhenti dan menjelma menjadi petualang sejati.
