Introspeksi Dari Ketinggian
—
Senin, 28 Agustus 2017
—
Menemukan Makna Pendakian
Betapa sejuk dan indahnya alam pegunungan, bukit-bukit
terjal dan tumpukan batu bagaikan irama klasik yang menyejukkan jiwa raga.
Semilir angin yang mendaki jurang-jurang dalam, menukik dan menyusuri
lembah-lembah kehidupan membuat manusia dari berbagai pelosok rimba beton
datang dan bersuka ria dalam genggaman-Nya.
Tidak peduli dari mana asal mereka, status sosial dan jenis
pekerjaannya, alam akan menyajikan keindahan dan kedamaiannya bagi umat
manusia, begitu bersahajanya dan terbuka alam atas kehadiran kita. Setelah alam
memenuhi hak-hak kita sebagai pendaki jangan lupakan hak-hak alam yang kita
sambangi.
Bagaimana mungkin tercipta sebuah keselarasan jika dua hal
dasar ini tidak pernah kita ketahui dan kita pahami. Tak penting !! Berapa
banyak gunung yang sudah kita daki, berapa banyak samudra yang sudah kita
arungi. Tak berguna jika semua itu justru menjauhkan kita dari hati nurani serta hukum keseimbangan yang diciptakan oleh Illahi. Bukannya semakin dewasa dan bijaksana
dalam pendakian malah semakin kekanak-kanakan didalam ketinggian.
Meyedihkan bukan, jika kesadaran itu hanya sebatas keindahan tetapi
melupakan tanggung jawab kita terhadap nilai-nilai keindahan. Berhentilah
mendzalimi alam!! Melupakan dan menginjak-nginjak hak alam dalam
kebanggaan. Berhentilah dan mulailah memahami hak dan kewajiban kita dalam
pendakian. Tidak hanya datang, bersenang-senang lalu bangga tanpa makna hidup yang akan kita terapkan didalam kehidupan.
Jangan pernah berhenti belajar dan berguru kepada alam dalam
setiap kegiatan pendakian dan Jangan pernah mendaki gunung jika tak mampu
menemukan makna pendakian.
