Kerinci "Jejak Langkah di Atap Sumatra"

Gunung Kerinci merupakan salah satu destinasi pendakian yang cukup populer dikalangan para pendaki Tanah Air karena memiliki ketinggian yang cukup fantastis yaitu 3.805 meter diatas permukaan laut dan merupakan salah satu gunung berapi tertinggi di bagian barat Indonesia setelah rangkaian pegunungan Jaya Wijaya yang terdapat di ujung timur Nusantara.

Gunung Kerinci sendiri termasuk didalam kawasan khusus yang dilindungi oleh Negara melalui Balai Taman Nasional Gunung Kerinci Seblat (TNGKS). Taman Nasional Kerinci Seblat adalah taman nasional terbesar di pulau Sumatera dengan luas wilayah kurang-lebih 13,750 km² dan membentang didalam empat wilayah provinsi yaitu Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Pos 3 Gunung Kerinci
Untuk mencapai titik awal pendakian gunung Kerinci diperlukan sekitar dua atau tiga hari perjalanan darat dari ibukota Jakarta ini. Dari Jakarta kita bisa menumpang bus Sinar Kerinci dengan tujuan Sungai Penuh dari Sungai Penuh kita menumpang angkot jurusan Kayu Aro Kresik Tuo dan turun tepat dihadapan Tugu Macan. "Belum apa-apa kita sudah diingatkan terlebih dahulu oleh patung macan tersebut agar kita jangan berbuat gegabah dan mencoba mengganggu kekuasaannya."

Setelah selesai mengurus perijinan dan cek list logistik serta perlengkapan di Pos pendakian setempat kita akan diajak menyusuri perkebunan teh menuju gapura Taman Nasional Gunung Kerinci Seblat. Waktu tempuh dengan berjalan kaki dibutuhkan sekitar kurang lebih tiga puluh sampai empat puluh lima menit.

Setelah melewati gapura masuk kita akan dihadapkan pada persimpangan jalan menuju Sungai Kering dan jalur menuju puncak gunung Kerinci, kita pilih jalur yang kekiri dan tidak lama berselang kita akan akan tiba di pos satu.

Dari pos satu menuju pos dua perjalanan cukup panjang waktu tempuh sekitar satu sampai satu setengah jam lamanya. Disekitar pos dua terdapat aliran air yang mengalir jernih dan cukup deras Sepanjang perjalanan dari Pos satu menuju Pos dua kita akan banyak mememui shelter-shelter yang terbuat dari besi dan masih beratap serta cukup layak untuk dijadikan areal basecamp.

Setelah pos dua kita akan melewati pondok kayu rusak yang terdapat dibawah pohon rimba yang sangat besar dan bernuanasa mistis kita akan berhadapan dengan kondisi jalur yang semakin menyempit dan semakin terjal, kondisi ini semakin bertambah parah dengan banyaknya pepohonan yang tumbang dan menghalangi jalan sehingga tidak jarang kita harus menunduk atau bahkan merayap untuk dapat melewatinya.

Dari pos dua hingga pos tiga mata air kita dapat menjumpai segala jenis kondisi hutan yang terdapat di pulau Jawa mulai dari hutan hujan basah Jawa Barat sampai dengan hutan hujan tropis kering Jawa Timur, unik dan ajaib tentunya.

Untuk mencapai pos tiga dibutuhkan waktu tempuh sekitar enam sampai tujuh jam berjalan kaki melewati halang rintang rintang yang disediakan oleh gunung Kerinci. Perjalanan naik yang cukup menguras tenaga, bergerak dari gapura masuk sekitar pukul sembilan pagi memasuki Pos Tiga hampir mendekati pukul enam sore waktu Indonesia bagian barat.

Di pos tiga biasanya para pendaki mendirikan base camp kemudian melakukan summit attack keesokan harinya. Di areal ini terdapat sumber mata air alami yang tidak pernah kering dan segar sekali untuk di konsumsi. Keadaan pos tiga cukup terbuka dan terdapat jurang yang mengangga apabila kita melihat kesebelah kanan jalur pendakian.

Kebetulan malam itu hujan turun sangat deras menyirami bumi Kerinci hingga aktifitas kami sangat terbatas hanya disekitar tenda lalu kami semua tertidur lelap hingga schedule pendakian yang rencananya dilakukan pada pukul tiga dini hari berubah menjadi pukul enam pagi waktu Indonesia bagian barat.

( Saat itu..) Dibawah deraan cuaca dingin dan berkabut seluruh anggota team melakukan persiapan logistik dan perlengkapan, setelah menyantap sarapan pagi dan cek perlengkapan yang akan dibawa ke Puncak gunung Kerinci team pun bergerak meninggalkan basecamp menuju Batas Vegetasi, perjalanan menuju Batas Vegetasi benar-benar menantang dan menguras energi karena kondisi antar cerukan yang cukup dalam sekitar dua atau tiga meter membuat tangan dan kaki kita berfungsi secara keseluruhan dan dijamin jarang ada yang menganggur.

Waktu tempuh pos tiga-batas vegetasi memang tidak seberapa jauh, lebih kurang sekitar satu setengah jam berjalan kaki menyusuri areal yang cukup tajam mendera lutut kita. Areal Batas Vegatasi sangat terbuka dan indah karena merupakan batas akhir antara tumbuhan dan bebatuan kering yang tandus.

Di areal ini apabila cuaca cerah dan tidak tertutup oleh kabut maka akan terlihat pemandangan gunung Tujuh dan jalur menuju puncak gunung Kerinci yang sekilas mirip sekali dengan jalur pendakian gunung Slamet di Jawa Tengah dari batas vegetasinya. Ditempat ini seluruh anggota team mengecek kembali peralatan team dan peralatan individu agar jangan sampai tercecer apalagi tertingal.

Kabut mulai merayap perlahan menutup pemandangan indah dan menggantinya dengan rintik hujan, angin yang tadinya sepoi mulai bergemuruh melebihi gemuruh semangat dalam jiwa kami. Saat itu cuaca mulai tidak bersahabat, hujan disertai angin kencang menghantam keteguhan hati kami, sejenak kami terhenti membaca isyarat alam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing, suasana sunyi menjadi tambah sunyi dan tegang karena tidak satupun anggota team yang bersuara.

Dengan yakin dan berbagai pertimbangan logis yang dihadapi dilapangan pendakian tetap dilanjutkan menyusuri jalur berbatu yang terasa setiap menit semakin terjal menghantam jiwa raga kami. 
Bergerak dengan pertimbangan matang lebih baik dari pada diam menggantung harapan.

Disaat alam menjadi ganas dan tidak bersahabat maka manusia benar-benar tidak berdaya, hancurlah segala kesombongan dan kecongkakkan manusia dibawah gelora keperkasaan-Nya. Apa boleh buat.. Tekad sudah bulat tujuan sudah hampir didapat naik selamat turun pun harus selamat dengan segala ketabahan hati dan penuh dengan berbagai pertimbangan matang yang sangat hati-hati pendakian kami lanjutkan kembali, seluruh anggota team saling berdekatan dan bergerak dalam irama pendakian yang teratur, setiap individu dalam team adalah mata rantai kehidupan yang harus survive dan tetap hidup saat itu “No Body Lost”.

Walaupun kabut tebal hingga jarak pandang hanya dapat tembus satu atau dua meter saja namun setiap gerak langkah kami adalah jejak hidup yang dapat harus kami baca kembali disaat kembali lagi dari puncaknya.

Setelah hampir 4 jam berjalan menebus kabut pekat yang disertai hujan dan angin kencang seluruh anggota team berhasil mencapai Tugu Indera (seorang Pendaki Jakarta yang tewas pada tahun 1983) di tempat ini kami semua berkumpul dan saling menguatkan mental serta melakukan evaluasi terhadap perkembangan cuaca dan marka jalan yang telah kami buat sepanjang jalur pendakian hingga sampai ditempat ini.

Alhamdullilah ketika kami semua sedang terdiam dan tenggelam dalam kenikmatan menghisap tembakau kretek, alam memberikan secercah senyumannya ditengah hantaman hujan dan angin, sinar matahari sempat timbul dan tenggelam walaupun itu sangat redup tetapi sudah cukup bagi kami bahwa penguasa alam telah mengijinkan kami untuk tetap bergerak mendaki.

Dari Tugu indera Puncak kerinci sudah sayup-sayup terlihat dan seakan tersenyum bangga melihat keteguhan dan kepasarahan kami. Setiap usaha selalu ada imbalannya asalkan tidak sombong dan selalu waspada karena semua mutlak milik-Nya. Puncak Kerinci sudah didepan mata kabut tebal hembusan angin dan cucuran air hujan telah berkurang berganti dengan matahari yang tetap sayup-sayup dibawah bayang-bayang kabut hujan.

"Alhamdullilah yaa Rabb" tidak disangka, cuaca buruk dan mencekam dapat kami lalui dengan selamat untuk menembus puncak gunung Kerinci dengan ketinggian 3.805 Meter diatas permukaan laut, suasana di puncak gunung Kerinci sangatlah tenang karena hanya kami berempat yang ada diareal puncak saat itu.

Nampak dihadapan kami walaupun agak samar terhalang kabut hujan yang sangat tebal, kawah gunung Kerinci yang mengeluarkan asap putih dengan dinding kawah berwarna hijau kemerah-merahan tanpa buang waktu kami semua segera berpose untuk mengabadikan moment kehadiran kami didalam album kenangan Kerinci. 

Sambil menghisap rokok dalam-dalam kami segera bergegas meninggalkan daratan tertinggi di pulau Swarna Dwipa itu. Suasa tenang dan tegang tetap menggantung lirih diudara karena tak lama berselang kabut disertai hujan dan angin kencang menghantam kehadiran kami di singgasana tertinggi gunung kerinci, kabut hitam pekat bak asap hitam bakaran ban terus mengiringi langkah turun kami. Beruntunglah marka jalan yang kami buat membuat degupan jantung tidak melebihi kerasnya gemuruh angin di puncak Kerinci.
Kerinci Desember 2001

Jakarta – Sungai Penuh (bus)
Sungai Penuh – Jurusan Kayu Aro Kresik Tuo (angkot) turun di Tugu Macan
Jakarta-Padang ( Pesawat )

Padang-Sungai Penuh menggunakan travel.