Renungan Alam

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sebagai mahluk yang tinggal dimuka bumi ini seharusnya kita bisa hidup didalam harmoni.
Kesimbangan antara pemanfaatan kekayaan sumber daya alam dan dampak negative akibat ekploitasi alam harusnya dapat kita seimbangkan, sebagaimana kita menjaga keseimbangan eksistensi hidup kita dialam ini.

Sangat disayangkan bukan!! Kita sebagai manusia yang sering kali datang memenuhi panggilan alam kadang tidak pernah mampu berdamai dengan perilaku kita. Kita masih saja egois dengan jutaan alasan yang kita angkat kepermukaan. Padahal alam begitu arif dan bijaksana, mengajarkan nilai nilai falsafah hidup dan kekuatan. Alam selalu memberikan apa yang kita inginkan, selalu memberi dan merelakan.

Memang bukan kita yang merusak hutan dengan illegal logging, pembalakan liar serta merubah fungsi hutan menjadi lahan sawit dan pertanian.
Jelas bukan kita, karena sebagian besar dari kita hanyalah produsen sampah yang produktif bagi gunung-gunung yang kita sambangi.


Memang bukan kita yang menhancurkannya tetapi juga bukan alasan bagi kita untuk tetap diam dan perlahan lahan membiarkan semuanya musnah menjadi kenangan.

Al-Quran menjelaskan kepada manusia bahwa hakikat penciptaan manusia bukan tanpa direncanakan. Langit dan bumi bahkan seluruh molekul alam semesta terdapat didalam jiwa raga seorang manusia. Manusia tercipta dan terpilih sebagai mahluk terunggul di alam semesta ini. Oleh karena itu, manusia pula yang mengemban risalah dan kepemimpinan di muka bumi ini.

Seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 30:
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Sebagai mahluk terunggul serta khalifah Allah Swt di muka bumi Para malaikatpun bersujud kepadanya. Gunung-gunung, lautan serta rimba raya beserta seluruh mahluk hidup tak kuasa menolak kehadirannya. Subhanallah sungguh besar nikmat yang Allah limpahkan kepada kita. Hampir tak ada mahluk yang sepadan dengan penciptaan manusia.


Hampir tak ada musuh yang sepadan dengan kemampuan manusia. Musuh utama manusia hanya dirinya sendiri. Hawa nafsu, kesombongan serta ketamakan manusia adalah bumerang yang siap memotong mata rantai kebahagian abadinya dalam kesempurnaan penciptaan yang pernah tercipta.

Alam raya yang sejatinya diciptakan sebagai penopang kehidupan kadang berubah menjadi medan pertempuran yang penuh darah. Penyimpangan perilaku dan kodrati manusia akan terus terjadi apabila manusia tidak segera menyadari hakikat penciptaannya.

Okelah mungkin itu terlalu jauh dan luas cakupannya bagaimana dengan kita. manusia manusia yang gemar mencari tantangan dengan bermain main di alam raya, manusia manusia yang terpilih oleh alam sebagai tamunya yang mulia. Mungkin mereka yang tak mengenal merdunya gemericik air yang mengalir jernih diantara bebatuan serta nyayian rimba dalam senandung hijaunya tak begitu peduli.

Bagaimana dengan kita ?
Tak terusikah hati kita melihat hutan gunung yang kita banggakan perlahan tapi pasti terus menerus ditelanjangi, sungai-sungai yang menjadi hitam akibat limbah beracun dari racun industrialisasi yang tak terkendali. P

olusi matrialistik serta gerusan arus globalisasi telah banyak merubah manusia Indonesia menjadi bandit bandit populis berjiwa sambal.

Ekploitasi keindahan alam dilakukan dalam sekala besar tanpa diiringi keindahan dan kebesaran jiwa dari para pencarinya. Pantai, laut, danau, sungai , gunung, bukit, goa dan lainnya selalu penuh sesak oleh manusia-manusia yang mencari damai dari arifnya alam.

Apakah kepuasan yang diberikan alam tidak menyentuh bathin, tidak menggerakan hati untuk selalu menjaga keberadaan indahnya, atau kehadiran kita sebagai seorang manusia hanyalah topeng!!! Cermin hidup dari sampah yang berserakan tertiup angin trending popolis back to nature.

Upss tak perlu mengelak, Aku bukan pecinta tetapi aku penikmat. Aku hanya ikut-ikutan atau hanya sekedar berkunjung. Aku bukan apa-apa. Pertanyaan besarnya?? Cukup waraskah kita, hidup dari menikmati alam tetapi semena-mena, mati hati dan pikiran.

Sadar akan keberadaan tetapi tidak mengerti arti kehadiran. Buta mata tertutup gelak tawa serta status palsu dalam layar kaca dunia maya. tuli serta cacat hati nuraninya dalam ketulusan kasih alam raya.

Ayolah kawan.
Sebelum ikan terakhir mati, pohon terakhir tumbang dan matahari melelehkan lautan es. Perlahan lahan kita sadarkan diri kita, teman-teman kita serta orang-orang terdekat kita untuk menciptakan mata rantai keseimbangan didalam hidup kita.

Sedikit demi sedikit lama-lama beribu-ribu tumbuh dan bangkit untuk bergandengan tangan sebagai Insan, sebagai khalifah, sebagaimana Allah SWT percayakan kepada kita mahluk yang mulia untuk menjaga dan melindungi bumi Allah tercinta ini.

Jangan Pikirkan kiamat yang akan datang sebagai misteri tetapi pikirkanlah kiamat yang kita buat sendiri dalam kehidupan ini.

Barakallah Fii Umrikk. 
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.