Mutiara Pendakian
—
Minggu, 18 Juni 2017
—
Kata-Kata Mutiara
- Kedewasaan seorang pendaki tidak bisa diukur dari track record pendakiannya, sebab tak sedikit kita jumpai kasus, bertambahnya track record bertambah pula keseombongannya, semakin keras kepala dan bertambah minim kebijaksanaannya. Pengalaman hanya menjadikan dirinya sebagai sosok yang terjebak dalam hegemoni ke akuan, berfikir sempit dan merasa hebat dari manusia lainnya. Sangat ironis, alam sebagai guru dari medan medan kesadarannya tak mampu menyentuh hatinya dan memerdekaan dirinya dari kegelapan jiwa.
- Setiap aksi. Apapun bentuknya!! Baik Nyata, maupun Maya. Secara Lisan. Tulisan ataupun aksi aksi lainnya adalah bentuk perjuangan & keberanian seseorang untuk melawan ketidak benaran dengan cara cara yang benar haruslah kita hormati & hargai. ( belajar menghargai )
- Saat keinginan dibatasi oleh kenyataan maka bersyukurlah sebab hanya sukur nikmatlah yang membuat kita bahagia dalam menerima kenyataan.
- Langit tak pernah resah dengan birunya bgitu juga setapak tak pernah bising dengan riuhnya langkah. Biar semuanya ramai bersuara keduanya tetap hening apa adanya.
- Seperti gunung yang tetap membumi walau menyentuh awan setiap hari.
- Hidup itu medan petualangan yang sesungguhnya. Siapapun yang telah memahami hidupnya maka akan memahami petualangannya. ( cermin )
- Kesombongan itu menolak kebenaran & meremehkan segala sesuatu yang tidak berasal dari dirinya.( Arrogance that reject the truth and belittle everything that does not come from him. )
- Diri kita ibarat wadah. Jika penuh oleh kesombongan maka pengetahuan akan terbuang dengan percuma sebaliknya jika terisi kebijaksanaan maka pengetahuan akan menjadi ilmu yang berguna.
- Para pendaki yang telah menemukan hakikat pendakiannya akan menyadari bahwa sesungguhnya keseimbangan dan keindahan alam adalah keseimbangan dan keindahan dirinya sendiri.
- Pendakian hanyalah jalan menemukan kebebasan sementara kedewasaanlah yang membentuk mentalitas seorang pendaki untuk bisa memahami arti pendakian dalam kehidupannya.
- Semua orang bisa menjadi pendaki tetapi tak semua orang mampu untuk menemukan hakikat pendakiannya.
- Diam adalah cara terbaik untuk mencermati dan memahami situasi sedang ketenangan dan kedewasaan adalah cara terbaik untuk mengerti dan menyikapi keadaan agar tetap aman dan terkendali.
- Pendakian bukanlah ajang rivalitas dan persaingan melainkan sarana untuk mengasah kemampuan diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan sang pencipta alam.
- Bukan masalah seberapa hebat seseorang memainkan peranan hidupnya melainkan seberapa hebat dirinya dalam memanfaatkan kehebatan yang bermanfaat kepada dirinya dan lingkungan sekitarnya.
- Ketika keindahan menjadi alasan utama pendakian maka tak ada cara yang lebih indah untuk menikmatinya selain daripada bertanggung jawab.(tanggung jawab itu indah)
- Gunung telah mencontohkan keragaman adalah kekuatan, api dan air menyatukan tanah dan batu, udara mendorongnya kepermukaan hingga membentuk gundukan yang menjulang tinggi ke angkasa, kayu dan semua unsur lain bersatu membentuk sebuah karya yang kita sebut sebagai sebuah panorama. Indahnya keragaman. Indahnya persatuan.
- Tak penting kita ini siapa ?? kita ini apa ?? yang terpenting kita sadar, paham, dan mengerti keberadaan kita, tugas dan tanggung jawab serta bagaimana mengisi kegiatan dalam hidup dan petualangan kita. Tak Penting kita ini siapa dari organisasi mana atau anak siapa..Tak penting..Sebab alam tak akan mempertanyakannya..Alam tak peduli siapa diri kita..Alam tak pernah membeda bedakan..Tetapi satu hal yg pasti.. Alam akan memilih dan menetapkankan dengan sempurna. SIAPA KITA yang sesungguhnya.
- Kebijaksanaan alam kadang tak sebanding dengan manusia manusia yang datang menikmatinya.. Alam hanyalah simbol dari diri kita semakin indah kita menyikapinya semakin nyata panorama surga yang mengiringinya.
- Kedewasaan seseorang pendaki dalam bersikap melambangkan cahaya bathin seorang manusia yang sedang mencari ilmu & pengetahuan tentang kebenaran hakiki melalui pengalaman pendakian di setiap sisi kehidupannya.
- Tingginya gunung kadang merendahkan budi pekerti seseorang. Dalamnya laut kadang mendangkalkan akal pikir seseorang. Derasnya arus kadang menderaskan ego & kesombongan seseorang. Curamnya tebing dan jurang kadang memisahkan kebenaran dari hati nurani seseorang. Dalamnya gua kadang menggelapkan perilaku seseorang. Lebatnya belantara kadang menyuburkan kejahatan seseorang. Banyaknya ilmu kadang banyak membodohi hidup seseorang. Banyak banyaklah ingat dan introspeksi sebab alam telah mengingatkan kita untuk selalu waspada dan introspeksi.
- Para pendaki yang telah mengenal sifat-sifat dan potensi dirinya, akan selalu mawas diri, waspada serta tak akan meninggalkan nilai-nilai hakikat penciptaannya sebagai khalifah dimuka bumi ini.
- Mustahil seorang pendaki dapat menjaga dan melestarikan
nilai nilai keindahan jika ia sendiri tak mengerti dan tak dapat menjaga
dirinya sendiri dari haq dan tangung jawabnya dalam penciptaan.
- Pecinta alam adalah pribadi pribadi yang mampu menyelaraskan diri dengan hukum keseimbangan, memahami hukum sebab akibat serta menyadari tugas dan tanggung jawabnya dalam mengisi hak dan kewajibannya di alam ini. Tidak akan lahir seorang pecinta jika dia sendiri tak pernah mampu untuk mencintai, menyayangi serta merawat dirinya dalam berbagai kesempatan yang ada.
- Alam dan cinta adalah cermin keseimbangan yang sempurna, barang siapa mampu menjaga cinta dan keseimbangan hidup didalam dirinya maka dia akan mampu menyelaraskan hidup dan cintanya dengan kesimbangan alam.
- Seganas ganasnya alam tak lebih ganas dari kerakusan dan keserakahan manusia dalam mengeksplorasi alam.
- Air jernih yang mengalir dari puncak gunung akan keruh ketika sampai dimuara disanalah samudra akan menetralkannya kembali dan menerbangkannya ke angkasa dalam bentuk uap uap air serta menjatuhkannya kembali sebagai butiran butiran hujan yang jernih di puncak-puncak gunung sebagai mata air kehidupan. ( sirkulasi hidup )
