Mahameru 12-17 Desember 1969
—
Senin, 19 Juni 2017
—
Tokoh & Histories
12-17
desember 1969. Masa itu setelah dibayang bayangi oleh gejolak multi dImensional
yang berdarah- darah melanda negri ini. Berangkatlah 8 orang anak muda yang
sebagian besar adalah mahasiswa UI Jakarta menuju sebuah tanah impian yang
menjulang tinggi membelah angkasa pulau Jawa.
Tak pernah terbayangkan dalam benak mereka bahwa perjalanan itu kelak akan menjadi
puncak perjalanan bagi dua orang rekan tercinta dan tercatat sebagai sejarah
memilukan dalam kehidupan mereka. MAHAMERU 12-17 desember 1969 adalah saksi
bisu yang memiliki rentan waktu sangat panjang tehadap kisah delapan orang anak
muda ini. Hiruk pikuk kota Jakarta berserta sejarah yang dibuatnya telah
menggiring para demonstran ini mencari kedamaian dalam pelukan Mahameru.
Sore 16
Desember 1969 alam seakan bersedih dengan menitiskan air matanya dalam selimut
kabut tebal yang membungkus perjalanan bersejarah itu. Rombongan yang terbelah
menjadi 2 bagian itu seakan membenarkan firasat maut oro oro ombo yang
sebelumnya pernah terlintas dibenak seorang diantara mereka..
”Ya Sore
itu Mahameru nampak sangat mengerikan." Mahameru seakan akan membawa maut
kepada kami.” Rombongan yang akan segera terpisah menjadi dua alam kehidupan
tetapi terkemas rapi dalam sebuah sejarah di peradaban.
Firasat
tinggal firasat dan maut tak dapat dielakan.
“Say
your prayer dan segera turun” hmm inilah kata kata yang sempat tertinggal dan
akan abadi dalam kenangan Mahameru. Setelah Wiwiek, Tides dan Badiel turun Gie
masih bertahan dipuncak untuk menunggu Herman Lantang. Gie sangat kawatir
dengan kenekatan Herman Lantang makanya ia bersikukuh untuk menunggunya.
Sebelum
Wiwiek, Badiel, Freddy dan Tides turun untuk membawa maman yang cedera karena
suatu hal, Gie sambil tertawa kecil berkata kepada Badil. “ ni titip buat janda
janda gue di di Jakarta.." Yaa batu batu dan beberapa helai daun cemara
itu seakan menjadi cinderamata dari para dewa kepada kita untuk merenungi
tangisan dan air mata Pertiwi yang mengiringi kepergian seorang demonstran
sejati.
Maut itu
benar benar datang.
Selang
beberapa lama Herman dan Idhan tiba di Puncak. Idhan segera duduk disamping Gie
sementara Herman tetap berdiri menatap Kepulan Hitam Jonggring Saloko. Angin
dingin yang berselimut gas beracun diam diam telah merasuk kedalam tubuh Gie
dan Idhan tanpa mereka sadari. Herman Lantang yang berdiri tegak sekan menjadi
saksi dari tegarnya seorang anak manusia dalam menyaksikan detik detik akhir
kehidupan dua orang sahabatnya.
Tiba
tiba Gie lemas dan tubuhnya agak menggelepar, dengan sigap Herman yang tak
menyadari bahwa dirinya juga sedang diintai maut segera membawa Gie turun
menuju Base Camp di Arcopodo. Baru beberapa meter dari puncak..Herman punya
maksud tetapi Tuhan punya kuasa, disaksikan megahnya Mahameru Gie pun tewas
dipelukannya..
Menyadari
maut telah merengut sahabatnya Herman terkulai tetapi ia segera teringat kepada
Idhan. Segera ia kembali menuju puncak dan mendapati Idhan juga sudah lemas tak
berdaya, dengan kesedihan yang mendalam Herman yang terkenal keras dan nekat
ini tak mampu lagi membendung air matanya karena ternyata Idhan pun telah
berpulang didalam pelukan Mahameru. Hujan telah berhenti tetapi hujan baru akan
dimulai setelah Pertiwi mengetahui kejadian ini.
Sejarah
itu telah tercipta.
Herman
Lantang terpaku diantara batu batu dan pasir Semeru yang menjadi alas jenazah
dua orang sahabatnya. Sementara rekan
mereka yang lain menunggu dengan gelisah dalam ketidak tahuan bersama racauan
seorang sahabat mereka. Keasadaran sebagai seorang kawan, sahabat dan jiwa-jiwa
yang mencintai alam sepenuh hati telah mendorong bathin Fredy dan Tides untuk
menjemput serta mengetahui keadaan tiga orang sahabatnya.
Solidaritas
berbicara tetapi Semeru memiliki cerita karena sejarah akan segera tercipta,
dalam temaram suasana mereka mendapati Herman sedang menangis. Tangisan perih
diatas cerita abadi jasad kaku kedua sahabatnya. Duka bercampur debu Semeru
menjadi saksi pergulatan bathin yang sulit dilukiskan dengan kata dan air mata.
Dengan
semangat yg tersisa didalam luka, susah payah mereka mencoba untuk membawa
jenazah Gie dan Idhan menuju Arcapada.
Jonggring
Saloka tetap bergemuruh, awan hitam tetap menggantung didalam sunyinya maut
yang datang menghampiri. Gie dan Idhan diam membeku sementara Herman. Fredy dan
Tides harus pergi untuk kembali.
Gie dan Idhan telah tiada.
Tanah
tertinggi Pulau Jawa menjadi saksi bisu bagi ratusan genarsi selanjutnya atas
jasad-jasad kaku keduanya. Jasad jasad
muda yang gugur dalam keyakinan hidup untuk memperjuangkan cita dan cinta
mereka terhadap damai dan indahnya Nusantara.
GIE dan
IDHAN telah tiada tetapi tidak dengan semangat mereka yang selalu hidup didalam
jiwa muda setiap anak bangsa.
Mahameru
Enam belas Desember 1969.
Soe Hok
Gie, Idhan Dhanvantari Lubis. Rudy Badil, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A.
Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.
Dari berbagai sumber.
